Darurat Sibolga! Warga ‘Menjarah’ Sembako, Akses Putus Total Usai Banjir Bandang

SIBOLGA  Situasi mencekam melanda Kota Sibolga, Sumatera Utara. Usai diterjang banjir bandang dan longsor, ribuan warga yang terisolasi dan kelaparan terpaksa mengambil logistik sembako langsung dari sejumlah toko swalayan dan gudang pemerintah.

Aksi itu dipicu kepanikan karena bantuan tak kunjung tiba. Akses logistik terputus berhari-hari, memaksa warga bertindak untuk memenuhi kebutuhan dasar.

“Karena kondisi tersebut, warga terpaksa mengambil logistik sembako di sejumlah toko swalayan dan gudang pemerintah dua hari lalu,” bunyi keterangan resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Senin (1/12/2025).

Lebih dari 12.000 warga di wilayah terdampak, terutama di Tapanuli Tengah, masih terjebak isolasi. Penyebab utama adalah jalan vital seperti Tarutung-Sibolga yang terputus ratusan kilometer akibat tertimbun material longsor.

Jalan, Komunikasi, Listrik: Jungkir Balik

Bencana yang dipicu siklon tropis sejak 24 November itu benar-benar melumpuhkan Sibolga. Pihak berwenang menyebut kondisi akses “terputus total”. Tak cuma jalan, komunikasi dan listrik juga padam. Evakuasi dan distribusi bantuan pun tersendat.

Kepala BNPB Suharyanto menyebut upaya membuka jalur darat dengan alat berat masih terus dilakukan di ruas Sibolga-Padang Sidempuan dan Sibolga-Tarutung. Prosesnya bertahap, padahal kebutuhan warga sudah sangat mendesak.

Korban Jiwa dan Pengungsi Melonjak

Dampak bencana ini sungguh parah. Data per 28 November menunjukkan, di Kota Sibolga saja, korban meninggal mencapai 33 jiwa dengan 56 orang masih hilang. Secara total di Sumut, korban jiwa dilaporkan 116 orang dengan 42 orang dalam pencarian.

Gelombang pengungsian juga masif. Di Sibolga, 4.456 jiwa mengungsi. Sementara di Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, pengungsi masing-masing mencapai 1.659 jiwa dan 4.661 jiwa.

Status Darurat & Bantuan Via Udara

Pemerintah telah menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari di Sumut, sejak 27 November. Posko Nasional dibangun di Tapanuli Utara sebagai basis logistik via udara.

Bantuan seperti beras, air, makanan instan, dan selimut telah dikirim, termasuk oleh Bhayangkari Polda Sumut. Tantangan terbesarnya adalah menembus wilayah terisolasi. Mobil satelit dan internet Starlink pun diterjunkan untuk memperbaiki komunikasi.

Darurat atau Penjarahan?

Insiden pengambilan logistik oleh warga menyoroti garis tipis antara tindakan survive dan pelanggaran hukum. Otoritas setempat tampaknya memahami tekanan yang dihadapi warga. Hingga berita ini dibuat, belum ada pernyataan resmi yang menyebut kejadian ini sebagai “penjarahan”. Situasi ini lebih dilihat sebagai konsekuensi darurat ekstrem.

BNPB menegaskan prioritas utama adalah membuka akses, mempercepat distribusi bantuan terorganisir, dan melanjutkan operasi SAR. Upaya normalisasi jalur Tarutung-Sibolga sepanjang 40 kilometer yang berhasil ditembus hari ini diharapkan menjadi titik terang meredakan kepanikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita
Nasional
Hukum
Search